Suatu ketika disaat kita, entah itu mengemban amanah maupun atas kemauan sendiri pasti ada suatu hal yang perlu ditekankan. Yakni pertanggung jawaban. Tangung jawab, dimana objek tersebut adalah suatu hal yang selalu menjadi acuan utama memilih pemimpin dengan tidak mengesampingkan acuan-acuan lainnya. Dalam topic ini, bahasan yang saya pakai adalah lingkup remaja saat ini, dimana tiap individu yang bertanggung jawab, setidaknya pada diri sendiri adalah sulit untuk mencarinya.
Pada hakekat yang ada, seharusnya tanggung jawab selalu ada dalam ruang lingkup kehidupan kita. Dimana saja, kapan saja, dan dalam situasi apa saja kita selalu dihadapkan pada apa yang dinamakan tanggung jawab. Mungkin munafik bila saya mengatakan saya sudah menjalankan apa yang menjadi tanggung jawab saya dengan baik. Hal itulah (pertanggung jawaban) yang memang jarang atau bahkan mungkin tidak ada dalam benak tiap remaja saat ini. DImana seharusnya menjalankan tanggung jawab, namun malah sebaliknya. Tanggung jawab seolah olah tidak ada, hanyalah seonggok teori yang mendasari kehidupan di tiap aspeknya. Hal inilah yang sebenarnya menimbulkan suatu masalah baru jika praktek pertanggungjawaban itu hilang.
Banyak contoh dalam kehidupan sehari hari remaja saat ini praktek pertanggung jawaban hilang dari tempatnya. Contohnya seperti saat para murid SMA yang ketagihan game, dimana saat merka seharusnya masuk sekolah, mereka malah membolos dengan santainya dengan ketidaktahuan orang tua mereka. Dan setelah itu,tidak ada pertanggung jawaban dari mereka. Mungkin masih banyak contoh yang lain.
Dalam lingkup mahasiswa, (untuk pembelajaran saja) mungkin saya mengalaminya, dimana ada seorang kawan sesama maba jarang atau bahkan mungkin tidak pernah masuk ketika pembelajaran semester ganjil berlangsung. Begitu semester genap, ia baru menampakkan batang hidung nya. Entah kemana saja ia selama ini. Yang jelas itu sama saja dengan tidak ada nya pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukan oleh orang tuanya. Dimana membiayai kuliah yang semakin mahal saja. Tidak seharusnya seorang anak menghianati apa yang telah diberikan oleh orang tuanya. Belum lagi soal menyontek dimana banyak remaja saat ini yang berorientasi pada nilai, dan tidak mempertanggung jawabkannya. Setidaknya mereka mencari ilmu pada saat proses pembelajaran, sehingga mindset yang ditanam ialah, bukan seberapa besar nilai yang didapat yang lebih penting adalah kita mendapat ilmu yang bermanfaat meski kecil nilainya. Setidaknya dengan demikian kita akan mempertanggung jawabkan pada orang tua atas apa yang telah diberikannya pada kita. Karena yang perlu diyakini adalah bahwasannya orang tua akan lebih bahagia bila kita jujur dalam pertanggung jawaban daripada kita hanya memanipulasi apa yang kita dapat sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar